Kamis, 06 Oktober 2011
Kamis, 17 Maret 2011
Renungan
7 orang yg mendapatkan naungan Allah dgn rahmatNya d Padang Mahsyar ialah :
Pemimpin yg adil
Remaja yg rajin beribadah
Lelaki yg hatinya dipertautkan dgn masjid-masjid
Dua oang yang saling cinta-mencintai karena Allah
Lelaki beriman yg ketika dirayu oleh wanita bangsawan lagi rupawan, lalu ia menjawab: "Sesungguhnya aku takut kpd Allah"
Orang yang bersedekah dgn ikhlas
Orang yg selalu berzikir kpd Allah
Semoga kita termasuk diantara orang tersebut. Amin , Amin Allahuma Amin Ya Rabbillalamin
Menempatkan Diri menjadi Orang lain
Siapapun akan membela orang tuanya jika merasa terzolimi. Tapi akan lebih baik jika kita membela kebenaran. Jadi jika sudah berbuat benar tak perlu lah lagi meminta belas kasihan apalagi kepada seorang Makhluk yang sama derajatnya di mata Allah kecuali amal-amalnya. Biarlah mengharap Allah yang berlaku adil karena Ia memang Maha dari segalaMaha.
Ada komentar dari saudari yang mengatakan saya menuliskan posting sebelumnya karena saya anak dokter, coba jika saya jadi pasien. Saya sering jadi pasien dan keluarga pasien, dan tetntunya saya juga menginginkan pelayanan yang semaksimal mungkin.
Saya disini berbicara sebagai anak dokter tetapi juga sebagai dokter. Entah mengapa saya merasa pesimis dengan bangsa sendiri. Banyak lulusan dokter tapi sebenarnya hanya sedikit yang sejahtera. Dan karakter bangsa ini yang bangga terhadap barang luar memang susah dihilangkan. Padahal di Amerika sendiri kasus malpraktek banyak sekali, yang notabene banyak penemuan disana, di Amerika jauh lebih kaya pengacara daripada seorang dokter.
Kadang pasien juga lebih ikhlas jika operasi gagal di Singapura daripada di negri sendiri. Dunia medis di Indonesia banyak keberhasilan yang diperoleh tapi jarang diekspos, dan masyarakat pun kurang respek. Misal di satu RS ribuan operasi berhasil, nyawa orang tertolong, tak ada pemberitaan, tapi jika yang kata awam itu malpraktek langsung di ekspos dan menumbuhkan minat ke alternatif lebih besar. Padahal sering ditemukan pengobatan alternatih opininya banyak yang di bayar dari pasien, kesembuhan pun sedikit malah sering terjadi komplikasi. Mis, dukun patah tulang telah membuat pasien infeksi dan kaki membusuk, baru kemudian datang kedokter ketika sudah parah. Tapi tak pernah ada pemberitaan. Pemerintah dan media pun menggiring opini masyarakat untuk sadar medis malah menjauhi medis Indonesia. Miris sekali.
Itulah yg kadang membuat teman2 dokter agak setengah hati berjuang di desa terpencil yang kurang masyarakat kurang percaya medis.
Sugesti dan Psikis untuk merasa sembuh juga timbul akibat kepercayaan pasien terhadap penolongnya.
Dalam kasus sebelumnya sudah dijelaskan bahwa si pasien dari kecil memang mempunyai kelainan ginjal. Luka operasi rahimnya juga sudah sembuh dan tidak ada hubungannya sama sekali. Jika ingin lebih jelas saya akan menulis artikel selanjutnya kelak. Sebenarnya jika ada masalah langsung nyatakan dengan dokternya, jika dokter salah langsung ingatkan. Karena kesempurnaan itu hanya milik Allah.
Jadi jika saya boleh memilih untuk menjadi kaya maka jadi pengusaha saja, menjadi dokter itu pengabdian bukan jalan untuk menjadi kaya. Pengorbanan seluruh hidup. Jika pun ada dokter yang kebetulan kaya itu memang sudah rezekinya.
Opini ini saya hadirkan bukan pembelaan. Bukan ingin mencari pembenaran. Hanya ingin mengajak teman sekalian agar lebih membuka pikiran tentang medis bukan percaya hal-hal mistis, lebih cerdas dan kritis juga jika menjadi pasien, dan tidak mencegah penggiringan opini oleh media untuk menjadi skeptis dan apatis terhadap medis di Indonesia yang tentunya untuk kepentingan kita bersama.
Wassallam.
Ada komentar dari saudari yang mengatakan saya menuliskan posting sebelumnya karena saya anak dokter, coba jika saya jadi pasien. Saya sering jadi pasien dan keluarga pasien, dan tetntunya saya juga menginginkan pelayanan yang semaksimal mungkin.
Saya disini berbicara sebagai anak dokter tetapi juga sebagai dokter. Entah mengapa saya merasa pesimis dengan bangsa sendiri. Banyak lulusan dokter tapi sebenarnya hanya sedikit yang sejahtera. Dan karakter bangsa ini yang bangga terhadap barang luar memang susah dihilangkan. Padahal di Amerika sendiri kasus malpraktek banyak sekali, yang notabene banyak penemuan disana, di Amerika jauh lebih kaya pengacara daripada seorang dokter.
Kadang pasien juga lebih ikhlas jika operasi gagal di Singapura daripada di negri sendiri. Dunia medis di Indonesia banyak keberhasilan yang diperoleh tapi jarang diekspos, dan masyarakat pun kurang respek. Misal di satu RS ribuan operasi berhasil, nyawa orang tertolong, tak ada pemberitaan, tapi jika yang kata awam itu malpraktek langsung di ekspos dan menumbuhkan minat ke alternatif lebih besar. Padahal sering ditemukan pengobatan alternatih opininya banyak yang di bayar dari pasien, kesembuhan pun sedikit malah sering terjadi komplikasi. Mis, dukun patah tulang telah membuat pasien infeksi dan kaki membusuk, baru kemudian datang kedokter ketika sudah parah. Tapi tak pernah ada pemberitaan. Pemerintah dan media pun menggiring opini masyarakat untuk sadar medis malah menjauhi medis Indonesia. Miris sekali.
Itulah yg kadang membuat teman2 dokter agak setengah hati berjuang di desa terpencil yang kurang masyarakat kurang percaya medis.
Sugesti dan Psikis untuk merasa sembuh juga timbul akibat kepercayaan pasien terhadap penolongnya.
Dalam kasus sebelumnya sudah dijelaskan bahwa si pasien dari kecil memang mempunyai kelainan ginjal. Luka operasi rahimnya juga sudah sembuh dan tidak ada hubungannya sama sekali. Jika ingin lebih jelas saya akan menulis artikel selanjutnya kelak. Sebenarnya jika ada masalah langsung nyatakan dengan dokternya, jika dokter salah langsung ingatkan. Karena kesempurnaan itu hanya milik Allah.
Jadi jika saya boleh memilih untuk menjadi kaya maka jadi pengusaha saja, menjadi dokter itu pengabdian bukan jalan untuk menjadi kaya. Pengorbanan seluruh hidup. Jika pun ada dokter yang kebetulan kaya itu memang sudah rezekinya.
Opini ini saya hadirkan bukan pembelaan. Bukan ingin mencari pembenaran. Hanya ingin mengajak teman sekalian agar lebih membuka pikiran tentang medis bukan percaya hal-hal mistis, lebih cerdas dan kritis juga jika menjadi pasien, dan tidak mencegah penggiringan opini oleh media untuk menjadi skeptis dan apatis terhadap medis di Indonesia yang tentunya untuk kepentingan kita bersama.
Wassallam.
"Mengapa aku minta belas kasihan? Jika aku divonis dengan benar, maka aku rela dengan hukum yg benar. Namun jika aku divonis dengan tidak benar, maka itu lebih benar bagiku daripada aku meminta belas kasihan kepada ketidak-benaran." (Sayyid Quthb)
Selasa, 22 Februari 2011
Surat untukku
Akhir-akhir ini sering sekali muncul tulisan di blog yang mengatasnamakan surat dari anak yang ibu/ayahnya bermasalah. Tujuan semuanya sama, mencari pembenaran, pembelaan ataupun simpati yang mungkin, mungkin saja meringankan beban orang tua sedikit.
Dan kali ini giliran saya.
Setiap anak bangga akan orang tuanya masing-masing, begitu pun saya. Karena kita tidak pernah diberi kesempatan untuk memilih akan lahir oleh siapa kita. Saya bangga mempunyai ayah dokter, saya tau betapa berat perjuangannya dari kecil. Jarang ikut acara keluarga ataupun liburan, padahal ia butuh. Telepon tidak pernah berhenti berdering siang dan malam. Bukan hanya mengorbankan dirinya sendiri untuk sebuah profesi ini, tapi kami mungkin anak-anaknya. Kalau ada orang bilang, enak ya jd dokter, banyak duitnya. Dalam hati saya selalu miris, banyak yg harus dikorbakan untuk menjadi dokter. Kalo emang mau kaya, ya jadi pengusaha.
23 tahun bukan waktu yang sebentar bagi seorang dokter ahli kandungan dan kebidanan untuk mengabdi di kota yang lumayan kecil. Bahkan banyak anak yang ditolongnya dulu, kini melahirkan anaknya lagi ditolong papa. Ia tak pernah mengeluh sedikitpun dengan kelelahannya. Walau sudah 62 tahun, papa masih kuat untuk menolong pasien. Berbagai keberhasilan pun banyak diraih, menolong bayi kembar 3, bayi 6 kg, tumor 28kg, yah, ga bisa disebutkan karena 23 tahun memang waktu yang tak sebentar. Kini di umur 62 tahun sebenarnya ia bisa menikmati hari tuanya dengan hanya melihat cucu, jalan2 atau mengerjakan hobinya. Karena usaha sampingan yang sama sekali tidak berhubungan dengan medis yang dijalankan mama lebih banyak mengcover kehidupan kami sehari-hari, tapi papa tetap tak mau meninggalkan profesi medis yang terlanjur sangat ia cintai.
sampai suatu ketika saya membaca berita ini dari metro tv news
Metrotvnews.com, Asahan: Diduga menjadi korban malapraktik seorang dokter di Asahan, Sumatra Utara, ibu dua anak kritis usai menjalani operasi. Reni, ibu dua anak, terpaksa dilarikan ke Rumah Sakit Adam Malik Medan, setelah sepekan operasi kondisinya kritis dan belum juga sadar. Reni diduga menjadi korban malpraktik dokter Sa'ad yang merupakan dokter spesialis kebidanan, pekan lalu.
Korban mengalami kritis setelah operasi kista dirahimnya hasil diagnosa sang dokter di Klinik Utama Kisaran, Sumatra Utara. Ironisnya setelah dirujuk ke RSU Abdul Manan Kisaran, korban malah didiagnosa mengalami gagal ginjal, hingga harus dirujuk kembali ke RS Adam Malik Medan untuk penangangan intensif. Kondisi korban dikabarkan semakin memburuk. Pihak keluarga korban berencana melaporkan dokter malapraktik ini ke pihak Kepolisian Resor Asahan.
Menurut ibu korban Nursiah, putrinya mengalami kejang-kejang dan bibir merot serta tidak buang kecil pasca operasi kista sang dokter. Korban juga belum sadarkan diri.
Sementara, saat ditemui di klinik utama tempat sang dokter berpraktek, dokter yang usianya sudah cukup tua ini langsung menghindar dan melarikan diri dengan mobilnya, meninggalkan sejumlah pasien yang menunggu giliran.(Jamiin Damanik/RIZ)
Yah cukup sudah cerita papa saya, karena akhirnya toh jatuh pada penilaian yang sangat objektif. Sekarang kita membahas berita yang minimpa papa saya, eh sebut saja dokter ini, agar memandangnya lebih objektif. Seorang dokter dikatakan malpraktik jika melakukan prosedur yang salah terhadap pasien. Pada pasien, komplikasi pun bisa terjadi kapan saja, bahkan di praktek umum sekali pun, ada pasien yang alergi terhadap obat tertentu sampai ia menderita pengelupas kulit yang sangat parah, alergi itu tak pernah dikterahui sebelumnya oleh dokter manapun baik si pasien sendiri. Tapi jika dokter itu telah melakukan prosedur yang benar , maka ia bebas dari tuntutan.
Sebelum operasi pasien harus mengetahui bagaimana kondisinya dahulu. Dalam kasus ini, pasien mempunyai penyakit ginjal bawaan dan beberapa sindrom lainnya yang dibawa sejak lahir. Jika pasien sudah mengerti komplikasi operasi dan menyetujui , menandatangani sendiri persetujuan operasi. Maka prosedur sudah sebagaimana mestinya. Pasien pun harus lebih pintar, bukan pintar-pintar mencari kesalahan dokter.
Yah unuk mendukung pernyataan ini seharusnya memang saya mencantumkan data, tapi ini hanya medengar cerita dari mama saya yang cukup tenang menghadapi smua ini. Papa juga sangat tenang, karena telah melakukan hal yang benar. Keluarga Pasien ini pun sebenarnya tidak masalah dengan ini, karena luka operasi sembuh dan tak ada masalah.
Yang saya sesali kenapa media paling senang memberitakan hal-hal yang menakut-nakuti masyarakat. Membesar-besarkan masalah. Bener kata @pandji buat apa kita ngeluarin uang langganan koran untuk berita krimanal smua, korupsi, selingkuh, perceraian, pembunuhan, pemerkosaan. Media seperti ingin mengadu domba bangsanya sendiri.
Mengapa media jarang menampilkan liputan prestasi anak negri. Banyak dokter yang harus meregang nyawa karena tenggelam, komplikasi malaria karena bekerja di daerah terpencil yang endemis malaria. Tak pernah diberitakan sedikitpun berita yang menginspirasi. Semua berita hanya mengaduk emosi pembaca dengan mencari-cari kesalahan.
Dan kadang saya sayangkan, memang tidak semua, wartawan banyak yang memeras, tentu pejabat paling banyak merasakan hal ini, tetapi keluarga saya juga pernah.
Percaya hukum di Indonesia ini pun seperti mempercayai suami yang sudah pernah selingkuh ribuan kali. Sulit rasanya. Tapi inilah Indonesia. Bangsa yang kucinta.
Dan kali ini giliran saya.
Setiap anak bangga akan orang tuanya masing-masing, begitu pun saya. Karena kita tidak pernah diberi kesempatan untuk memilih akan lahir oleh siapa kita. Saya bangga mempunyai ayah dokter, saya tau betapa berat perjuangannya dari kecil. Jarang ikut acara keluarga ataupun liburan, padahal ia butuh. Telepon tidak pernah berhenti berdering siang dan malam. Bukan hanya mengorbankan dirinya sendiri untuk sebuah profesi ini, tapi kami mungkin anak-anaknya. Kalau ada orang bilang, enak ya jd dokter, banyak duitnya. Dalam hati saya selalu miris, banyak yg harus dikorbakan untuk menjadi dokter. Kalo emang mau kaya, ya jadi pengusaha.
23 tahun bukan waktu yang sebentar bagi seorang dokter ahli kandungan dan kebidanan untuk mengabdi di kota yang lumayan kecil. Bahkan banyak anak yang ditolongnya dulu, kini melahirkan anaknya lagi ditolong papa. Ia tak pernah mengeluh sedikitpun dengan kelelahannya. Walau sudah 62 tahun, papa masih kuat untuk menolong pasien. Berbagai keberhasilan pun banyak diraih, menolong bayi kembar 3, bayi 6 kg, tumor 28kg, yah, ga bisa disebutkan karena 23 tahun memang waktu yang tak sebentar. Kini di umur 62 tahun sebenarnya ia bisa menikmati hari tuanya dengan hanya melihat cucu, jalan2 atau mengerjakan hobinya. Karena usaha sampingan yang sama sekali tidak berhubungan dengan medis yang dijalankan mama lebih banyak mengcover kehidupan kami sehari-hari, tapi papa tetap tak mau meninggalkan profesi medis yang terlanjur sangat ia cintai.
sampai suatu ketika saya membaca berita ini dari metro tv news
Metrotvnews.com, Asahan: Diduga menjadi korban malapraktik seorang dokter di Asahan, Sumatra Utara, ibu dua anak kritis usai menjalani operasi. Reni, ibu dua anak, terpaksa dilarikan ke Rumah Sakit Adam Malik Medan, setelah sepekan operasi kondisinya kritis dan belum juga sadar. Reni diduga menjadi korban malpraktik dokter Sa'ad yang merupakan dokter spesialis kebidanan, pekan lalu.
Korban mengalami kritis setelah operasi kista dirahimnya hasil diagnosa sang dokter di Klinik Utama Kisaran, Sumatra Utara. Ironisnya setelah dirujuk ke RSU Abdul Manan Kisaran, korban malah didiagnosa mengalami gagal ginjal, hingga harus dirujuk kembali ke RS Adam Malik Medan untuk penangangan intensif. Kondisi korban dikabarkan semakin memburuk. Pihak keluarga korban berencana melaporkan dokter malapraktik ini ke pihak Kepolisian Resor Asahan.
Menurut ibu korban Nursiah, putrinya mengalami kejang-kejang dan bibir merot serta tidak buang kecil pasca operasi kista sang dokter. Korban juga belum sadarkan diri.
Sementara, saat ditemui di klinik utama tempat sang dokter berpraktek, dokter yang usianya sudah cukup tua ini langsung menghindar dan melarikan diri dengan mobilnya, meninggalkan sejumlah pasien yang menunggu giliran.(Jamiin Damanik/RIZ)
Yah cukup sudah cerita papa saya, karena akhirnya toh jatuh pada penilaian yang sangat objektif. Sekarang kita membahas berita yang minimpa papa saya, eh sebut saja dokter ini, agar memandangnya lebih objektif. Seorang dokter dikatakan malpraktik jika melakukan prosedur yang salah terhadap pasien. Pada pasien, komplikasi pun bisa terjadi kapan saja, bahkan di praktek umum sekali pun, ada pasien yang alergi terhadap obat tertentu sampai ia menderita pengelupas kulit yang sangat parah, alergi itu tak pernah dikterahui sebelumnya oleh dokter manapun baik si pasien sendiri. Tapi jika dokter itu telah melakukan prosedur yang benar , maka ia bebas dari tuntutan.
Sebelum operasi pasien harus mengetahui bagaimana kondisinya dahulu. Dalam kasus ini, pasien mempunyai penyakit ginjal bawaan dan beberapa sindrom lainnya yang dibawa sejak lahir. Jika pasien sudah mengerti komplikasi operasi dan menyetujui , menandatangani sendiri persetujuan operasi. Maka prosedur sudah sebagaimana mestinya. Pasien pun harus lebih pintar, bukan pintar-pintar mencari kesalahan dokter.
Yah unuk mendukung pernyataan ini seharusnya memang saya mencantumkan data, tapi ini hanya medengar cerita dari mama saya yang cukup tenang menghadapi smua ini. Papa juga sangat tenang, karena telah melakukan hal yang benar. Keluarga Pasien ini pun sebenarnya tidak masalah dengan ini, karena luka operasi sembuh dan tak ada masalah.
Yang saya sesali kenapa media paling senang memberitakan hal-hal yang menakut-nakuti masyarakat. Membesar-besarkan masalah. Bener kata @pandji buat apa kita ngeluarin uang langganan koran untuk berita krimanal smua, korupsi, selingkuh, perceraian, pembunuhan, pemerkosaan. Media seperti ingin mengadu domba bangsanya sendiri.
Mengapa media jarang menampilkan liputan prestasi anak negri. Banyak dokter yang harus meregang nyawa karena tenggelam, komplikasi malaria karena bekerja di daerah terpencil yang endemis malaria. Tak pernah diberitakan sedikitpun berita yang menginspirasi. Semua berita hanya mengaduk emosi pembaca dengan mencari-cari kesalahan.
Dan kadang saya sayangkan, memang tidak semua, wartawan banyak yang memeras, tentu pejabat paling banyak merasakan hal ini, tetapi keluarga saya juga pernah.
Percaya hukum di Indonesia ini pun seperti mempercayai suami yang sudah pernah selingkuh ribuan kali. Sulit rasanya. Tapi inilah Indonesia. Bangsa yang kucinta.
Selasa, 23 November 2010
Wajib Hukumnya tauuuu !!!!
Aku sering gerah, bukan karena cuaca yg tak menentu tapi karena pendapat orang yang sering kudengar dan sudah tak tertahankan lagi sekarang. huffff *tarik nafas dalam-dalam *buang dari bawah. Preeeettt! Ups!bau ya? bukan aku yaaa
Emang apa sih?
Dooo ga sabar!
Sering ga denger komentar orang yang mengaku umat Islam terutama wanita kaya gini :
"Aduh, saya pake jilbabnya nanti aja deh. Tunggu dijilbabin hatinya baru kepalnya"
"Ah percuma pake jilbab ada orang yang pake jilbab tapi pecicilan, genit, munafik. Buat malu Islam aja"
"Ih biasanya kan ce yg pake jilbab buat nutupin kelakuannya. Sok suci"
Aku juga baru SMA pake jilbab, yang notabene karena lingkungan dan yang pasti keinginan yang kuat untuk menuruti perintah-Nya. Nya? yes, Allah SWT. Alasan kita hidup adalah mengabdi pada-Nya.
Ketika di SD dan SMP banyak berteman sama orang cina yang semua memeluk agama Budha dan Katolik. Saya kira dulu jilbab itu sunnah, buat anak pesantren aja. BODohkan???!!! Makanya saya berniat anak saya kelak dimasukin ke SD Islam aja sebagai fondasi mereka. Bukan bermaksud menalahkan orang tua, yakin mereka berusaha memberikan yang terbaik.
Setelah saya tahu itu wajib, saya menangis. Begitu banyak dosa saya memperlihatkan aurat ke yang bukan muhrim dan ancaman siksa neraka yang tak sanggup kubayangkan. Padahal orang tua dan teman-teman banyak yang ga mendukung.
Memakai jilbab supaya istiqomah juga tidak mudah. Harus dibekali ilmu yang memadai dan berkesinambungan --- Caila bahasanya
dan begitu banyak ayat di Al Qur an menyerukan wanita menutup auratnya
"Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinyua agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung. “ (QS. An-Nuur 31).
"Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka." Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang."(AlAhzab: 59 )
Jadi percayakah anda Neraka?
Kalau tidak percaya buat apa menjalankan perintahNya
kalau percaya jangan lagi tawar menawar dengan perintahNya untuk menutup aurat sama wajibnya seperti sholat 5 waktu atau puasa di bulan Ramadhan.
Kadang kalo sudah ibu ibu baru pake jilbab untuk menutupi uban atau keriput dan bangga memakai hot pants dan tank top trus marah2 kalo diliati laki laki paha dan dadanya *yeee orang kamu kasih gratis! sapa yang ga mau coba! Ingat, dosa untuk tidak menutup aurat sudah ditangan ditambah lagi dosa yang melihat juga kita yang tanggung. iiiihh gmana ga ngeri coba.
dan Rasul menyukai pemuda yang bertaqwa beribukali lipat dibandingkan orang tua.
Nah, tunggu apalagi. Tutuplah auratmu wahai wanita muslim.
jadi kalo ada yang bilang
"Aduh, saya pake jilbabnya nanti aja deh. Tunggu dijilbabin hatinya baru kepalanya"
jawabnya : Emang lu tau kapan matinya? gimana kalo besok mati? "terlambat sudah!" lagian hijab itu bukan kepala doang, aurat wanita itu smuaaa lagi kec wajah dan telapak tangan
"Ah percuma pake jilbab ada orang yang pake jilbab tapi pecicilan, genit, munafik. Buat malu orang islam aja"
jawabnya : dari pada udahlah ga menutup aurat, munafik lagi. Yang pasti kewajibabn sudah ditunaikan, sikap itu selalu berubah. Ga statis!
"Ih biasanya kan ce yg pake jilbab buat nutupin kelakuannya. Sok suci"
jwbnnya: dari pada sok hina!!!!
Jadi saya ga mau kalo ada cewe bilang kata2 diatas ya! bilang aja dalem hati tau bilang SAYA BELUM MAU MENJALANKAN PERINTAH NYA DAN SAYA YAKIN MATI SAYA MASIH LAMA!
Kalo itu baru cocok!
Cukup deh misuh misuhnya. Saya mau curhat aja, sesak di dada soalnya. Saya juga ga senang sama jilbaber yang nyakitin kalo nyuruh pake jilbab, serasa sgt berdosa dan dia suci banget. Memang hanya Allah yang tau Amal dan keimanan seorang hamba. Tapi kita harus slalu saling menasehari "Amar Ma'ruf Nahi Munkar"
Wassalam
*ngambil tensi
Emang apa sih?
Dooo ga sabar!
Sering ga denger komentar orang yang mengaku umat Islam terutama wanita kaya gini :
"Aduh, saya pake jilbabnya nanti aja deh. Tunggu dijilbabin hatinya baru kepalnya"
"Ah percuma pake jilbab ada orang yang pake jilbab tapi pecicilan, genit, munafik. Buat malu Islam aja"
"Ih biasanya kan ce yg pake jilbab buat nutupin kelakuannya. Sok suci"
Aku juga baru SMA pake jilbab, yang notabene karena lingkungan dan yang pasti keinginan yang kuat untuk menuruti perintah-Nya. Nya? yes, Allah SWT. Alasan kita hidup adalah mengabdi pada-Nya.
Ketika di SD dan SMP banyak berteman sama orang cina yang semua memeluk agama Budha dan Katolik. Saya kira dulu jilbab itu sunnah, buat anak pesantren aja. BODohkan???!!! Makanya saya berniat anak saya kelak dimasukin ke SD Islam aja sebagai fondasi mereka. Bukan bermaksud menalahkan orang tua, yakin mereka berusaha memberikan yang terbaik.
Setelah saya tahu itu wajib, saya menangis. Begitu banyak dosa saya memperlihatkan aurat ke yang bukan muhrim dan ancaman siksa neraka yang tak sanggup kubayangkan. Padahal orang tua dan teman-teman banyak yang ga mendukung.
Memakai jilbab supaya istiqomah juga tidak mudah. Harus dibekali ilmu yang memadai dan berkesinambungan --- Caila bahasanya
dan begitu banyak ayat di Al Qur an menyerukan wanita menutup auratnya
"Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinyua agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung. “ (QS. An-Nuur 31).
"Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka." Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang."(AlAhzab: 59 )
Jadi percayakah anda Neraka?
Kalau tidak percaya buat apa menjalankan perintahNya
kalau percaya jangan lagi tawar menawar dengan perintahNya untuk menutup aurat sama wajibnya seperti sholat 5 waktu atau puasa di bulan Ramadhan.
Kadang kalo sudah ibu ibu baru pake jilbab untuk menutupi uban atau keriput dan bangga memakai hot pants dan tank top trus marah2 kalo diliati laki laki paha dan dadanya *yeee orang kamu kasih gratis! sapa yang ga mau coba! Ingat, dosa untuk tidak menutup aurat sudah ditangan ditambah lagi dosa yang melihat juga kita yang tanggung. iiiihh gmana ga ngeri coba.
dan Rasul menyukai pemuda yang bertaqwa beribukali lipat dibandingkan orang tua.
Nah, tunggu apalagi. Tutuplah auratmu wahai wanita muslim.
jadi kalo ada yang bilang
"Aduh, saya pake jilbabnya nanti aja deh. Tunggu dijilbabin hatinya baru kepalanya"
jawabnya : Emang lu tau kapan matinya? gimana kalo besok mati? "terlambat sudah!" lagian hijab itu bukan kepala doang, aurat wanita itu smuaaa lagi kec wajah dan telapak tangan
"Ah percuma pake jilbab ada orang yang pake jilbab tapi pecicilan, genit, munafik. Buat malu orang islam aja"
jawabnya : dari pada udahlah ga menutup aurat, munafik lagi. Yang pasti kewajibabn sudah ditunaikan, sikap itu selalu berubah. Ga statis!
"Ih biasanya kan ce yg pake jilbab buat nutupin kelakuannya. Sok suci"
jwbnnya: dari pada sok hina!!!!
Jadi saya ga mau kalo ada cewe bilang kata2 diatas ya! bilang aja dalem hati tau bilang SAYA BELUM MAU MENJALANKAN PERINTAH NYA DAN SAYA YAKIN MATI SAYA MASIH LAMA!
Kalo itu baru cocok!
Cukup deh misuh misuhnya. Saya mau curhat aja, sesak di dada soalnya. Saya juga ga senang sama jilbaber yang nyakitin kalo nyuruh pake jilbab, serasa sgt berdosa dan dia suci banget. Memang hanya Allah yang tau Amal dan keimanan seorang hamba. Tapi kita harus slalu saling menasehari "Amar Ma'ruf Nahi Munkar"
Wassalam
*ngambil tensi
Senin, 01 November 2010
Eiiiyy Kangennya ma kamu
Halo Blog? kok cemberut gitu sih! Sorry ya uda ninggalin slama ini. Salahkan tuh si twitter yang uda gantiin kamu. Janji deh bahkan lebih sering buka buka kamu. COz u are my real diary. Masi mikir ada ga sih orang beli buku agenda atau diary gitu yang pake gembok trus ditulis tiap malam??? Yes! that was me! dari zaman SD suka nulis diary, merepet sendiri, nangis sendiri, ketawa sendiri. Theeen, where are they?? pasti lucu kalo dibaca lagi! smoga tersimpan dengan benar digudang palingan cuma kecoa dan tikus yang baca dan ngatain aku kalo aku dulu itu Alay. Dan sampai sekarang masi alay.
Ok deh! cuma mau coret coret aja dulu
lanjoooooot ke judul brikutnyaaaa! kali ini yang agak serius.
Ok deh! cuma mau coret coret aja dulu
lanjoooooot ke judul brikutnyaaaa! kali ini yang agak serius.
Kamis, 27 Mei 2010
Cinta Sementara
Allah berikan ruh di rahimku
Ia pilihkan untukku
Kuyakin pasti yg tepat untukku
Tapi kini Ia menguji imanku
Dengan mengambil anugrah ini
Apakah aku tak bisa memegang amanah ini
Apakah Kau tak mempercayaiku
Apapun maksudMu
Apapun niatMu padaku
Aku tetap yakinkan itu yang terbaik untukku
Tapi kuatkanlah hatiku tuk tegar menjalaninya..
Ia pilihkan untukku
Kuyakin pasti yg tepat untukku
Tapi kini Ia menguji imanku
Dengan mengambil anugrah ini
Apakah aku tak bisa memegang amanah ini
Apakah Kau tak mempercayaiku
Apapun maksudMu
Apapun niatMu padaku
Aku tetap yakinkan itu yang terbaik untukku
Tapi kuatkanlah hatiku tuk tegar menjalaninya..
Langganan:
Postingan (Atom)